Lucunya, profesi ini tidak pernah benar-benar kaya. Tapi reputasinya bisa sangat mahal.

Setiap kali satu orang memilih memeras daripada menulis, ada ratusan wartawan lain yang harus menjelaskan pada keluarga, pada narasumber, pada masyarakat.

“Tidak, kami tidak semua seperti itu.”

Di meja makan sederhana, banyak wartawan masih menghitung uang bensin sebelum berangkat liputan. Masih menawar harga kopi sachet di warung. Masih menunda membeli sepatu baru karena kamera lebih butuh diganti.

Mereka tidak viral. Tidak glamor. Tidak sering diundang ke acara mewah. Tapi mereka tetap menulis. Dan menulis, dalam bentuk paling jujur, selalu membutuhkan keberanian yang sunyi.