OPINI, MaduraPost - Pagi selalu datang dengan cara yang sama, pelan, dingin, dan kadang terlalu jujur. Di tanggal 9 Februari, kalender menandainya sebagai Hari Pers Nasional.

Sebuah hari yang, setidaknya di atas kertas, diperuntukkan bagi mereka yang hidup dari kata, bernafas dari fakta, dan berjalan dengan kompas bernama nurani. Namun, di lapangan, cerita pers tidak selalu seindah slogan.

Di sudut-sudut kota kecil hingga gedung-gedung pemerintahan yang berpendingin udara terlalu dingin, wartawan masih datang dengan sepatu yang sedikit berdebu, tas yang tak pernah benar-benar kosong, dan mata yang belajar membaca bahasa tubuh sebelum membaca rilis resmi.

Mereka datang membawa pertanyaan. Kadang pulang membawa jawaban. Lebih sering pulang membawa diam.

Menjadi penulis lepas, aku belajar satu hal, dunia pers itu seperti laut. Ada nelayan yang berangkat sebelum matahari terbit, berjuang melawan ombak, lalu pulang dengan ikan segar yang jujur.