Studi tersebut mencatat bahwa tingkat ketergantungan pada gawai yang tinggi justru berkaitan dengan memburuknya kesehatan mental.

Anak-anak pada umumnya sudah mengenali berbagai ancaman di dunia maya, seperti penipuan daring, peretasan akun, pencurian data pribadi, hingga perundungan siber.

Namun, pengetahuan itu belum disertai kemampuan yang memadai untuk menyikapi risiko secara aman dan sehat.

CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar mengatakan, bahwa kesadaran semata belum cukup. Menurutnya, anak-anak kerap memahami potensi bahaya digital, tetapi masih kebingungan menentukan langkah ketika risiko itu benar-benar muncul.

Ia menilai bahwa Anak" class="inline-tag-link">perlindungan anak di ruang digital membutuhkan penguasaan keterampilan digital yang menyeluruh, pendampingan aktif dari orang tua, serta dukungan kesehatan mental yang berkelanjutan.