Bupati Fauzi menilai, momentum ini dapat diubah menjadi sarana pengumpulan karya lokal.

“Kapan pun penulis atau penerbit menjual buku di bazar, Dispusip bisa sekaligus memberikan layanan pendaftaran, scanning, atau unggah ke repositori, bahkan menyediakan voucher e-Deposit untuk Perpusnas. Dengan begitu, setiap buku yang terjual punya peluang ‘diselamatkan’ bagi generasi mendatang,” terangnya.

Ia juga menambahkan, program literasi massal yang kini digalakkan Dispusip merupakan waktu yang tepat untuk mengintegrasikan gerakan membaca dengan agenda konservasi jangka panjang.

“Wadah kejelasan dan perlindungan tentang pelestarian budaya tidak boleh pasif. Ia membutuhkan kebijakan, infrastruktur, pendanaan, serta kolaborasi lintas-lembaga,” tandas Bupati Fauzi.***