Ia mencontohkan, pemeriksaan kadar gula darah, evaluasi gaya hidup, pengukuran berat badan, dan tekanan darah seharusnya menjadi bagian dari pelayanan standar.

“Kami ingin seluruh tenaga medis, baik dari puskesmas maupun klinik, mampu melakukan skrining risiko mandiri. Itu kunci pencegahan,” lanjutnya.

Ia juga mengaitkan kegiatan ini dengan strategi nasional pengendalian PTM dari Kementerian Kesehatan RI, yang menargetkan penurunan angka kematian dini akibat PTM sebesar 25 persen pada tahun 2025.

Dalam strategi tersebut, DM menjadi salah satu penyakit prioritas bersama hipertensi, jantung, dan kanker.

“Ini bukan sekadar tentang menurunkan angka prevalensi, tetapi tentang bagaimana meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Masih banyak warga kita yang tidak tahu bahwa mereka mengidap diabetes, dan baru datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah mengalami komplikasi. Karena itu, deteksi dini menjadi sangat vital,” tegas Syamsuri.