“Topik-topik yang kita bahas mencakup evaluasi program surveilans dan imunisasi, penanganan anak Zero Dose, penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB), komunikasi risiko, serta verifikasi data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR). Termasuk pula isu penyakit menular baru yang terus berkembang,” ungkapnya memaparkan.
Sebagai penguat diskusi, hadir pula pemateri dari Puskesmas Guluk-Guluk yang selama ini dikenal sebagai pelopor dalam penguatan program surveilans di tingkat puskesmas.
Menurut Ellya, kondisi geografis dan keberagaman sosial-budaya di Sumenep menuntut pendekatan kesehatan yang lebih fleksibel dan responsif terhadap data lapangan.
“Melalui pertemuan ini, kami ingin menunjukkan bahwa Sumenep tidak bersikap reaktif terhadap persoalan kesehatan. Kita memilih bergerak lebih awal untuk mencegah sebelum terjadi,” tukasnya.***