Ia menambahkan, bahwa berbagai laporan telah disampaikan kepada dinas terkait, termasuk melalui grup Siaga Bencana yang selama ini menjadi kanal pelaporan cepat.
Namun sayangnya, respons yang diterima belum menyentuh akar persoalan. Tano mengungkapkan, bahwa longsor sempat terjadi di beberapa titik seperti RT 02, RT 03, RT 10, dan RT 11.
Meski demikian, bantuan yang diterima hanya berupa terpal tanpa adanya tindak lanjut untuk mencegah bencana serupa terjadi lagi.
“Setiap tahun kondisinya semakin buruk. Memang ada petugas dari dinas yang datang, tapi saya melihatnya hanya formalitas saja. Tidak ada langkah nyata untuk mengamankan rumah-rumah warga yang jaraknya hanya enam meter dari sungai agar tidak terus dalam bahaya,” keluhnya.