Selain mengalir ke kantong penyelenggara, uang juga menciprat kemana-mana. Belum lagi uang yang berasal dari Pasangan Calon (Paslon), dan belum lagi uang yang berasal dari Penumpang Gelap. Uang tersebut mengalir deras ke berbagai pihak, antara lain ke Pengusaha, ke aktivis, ke wartawan, maupun ke segmen-segmen lain dalam berbagai rupa kegiatan, termasuk dan tidak terbatas kepada masyarakat pemilih;
Khusus yang disebut terakhir tadi, arus uang ke masyarakat pemilih, tampaknya yang paling dominan dan paling besar. Ada yang disebut uang saku, ada yang menyebutnya uang jajan di TPS, dan ada juga yang menyebutnya “money politik”. Intinya, Pemilu/Pemilukada, memang cukup identik dengan banyaknya arus uang di masyarakat;
Jadi, menyambut Pemilu/Pemilukada, bahagia itu ada pada Penyelenggara, ada pada pengusaha, ada pada wartawan, dan jago ngibul-ngibul. Maka tak jarang, pasca Pemilu/Pemilukada, konon ada banyak Orang Kaya Baru (OKB), termasuk akan tetapi tidak terbatas, Penyelenggara Pemilu. Terutama kalangan yang jago ngibul-ngibul;
Masyarakat pemilih tak seberapa. Hanya dapat uang jajan saja. Tapi karena yang dapat hampir merata, maka suasana gembira sangat tampak, terutama dalam obrolan warung kopi. Semuanya ngopi dan jajan dengan membayar uang cash. Yach, cash,,,!!! Tidak ngutang;
Tapi Pemilu/Pemilukada bukanlah pesta biasa. Tapi Pesta Demokrasi. Jadi, meskipun berkepala pesta, akan tetapi karena berekor Demokrasi, maka dua kata tersebut telah menciptakan makna tersendiri, yaitu tidak sekadar ada arus uang, melainkan juga harus ada nilai-nilai demokrasi;