Opini, MaduraPost - Sesuatu yang kehadirannya dianggap akan mendatangkan kegembiraan, biasanya akan disambut dengan sikap suka cita oleh warga masyarakat. Ekspresi rasa suka cita, dalam tradisi masyarakat, biasanya diwujudkan secara tidak seragam antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya. Sebagian menyebutnya PESTA, dan sebagian lainnya menyebutnya dengan SYUKURAN;
Pesta dan Syukuran memiliki karakter yang berbeda, serta dilakukan oleh kalangan yang derajat kebudayaannya juga berbeda. Bagi kaum yang dominan tradisi ketimurannya, akan menyebutnya syukuran, sedangkan yang dominan tradisi Sekulerismenya akan menyebutnya pesta;
Apa bedanya,,,??? Bagi saya, pada kata Pesta melekat adanya unsur foya-foya, sumringah, ngalor-ngidul, dan bebas ngibul-ngibul. Semuanya seolah-olah sah-sah saja dan tidak ada Tuhan. Sedangkan pada kata Syukuran, lebih tampak suasana senyap akan tetapi penuh dengan nuansa hikmad, sungguh-sungguh, dan sakral, yaitu disertai dengan adanya bacaan-bacaan yang sarat dengan puji-pujian terhadap Tuhan Yang Maha Esa;
Tidak ada referensi apapun yang saya pakai dalam membuat terminologi ini. Semuanya hanya berasal dari sudut pandang saya yang saya tarik berdasarkan realitas yang hidup ditengah-tengah masyarakat. Pendeknya, pesta memiliki kesan sebagai ekspresi berperilaku bebas tanpa batas. Sedangkan pada syukuran, mengandung kesan adanya kejujuran dan kesungguhan;
Dibawah pengertian tersebut diatas akan dicoba dipahami kenapa Suksesi peralihan kepemimpinan politik, baik Pemilu, Pemilukada dan bahkan Pilkades, sering dan jamak dianalogikan sebagai Momentum Pesta, yaitu dengan sebutan Pesta Demokrasi dan bukan sebagai Syukuran Demokrasi,,,???;