Daerah  

Wings Air dan Citilink Pamit, Bandara Trunojoyo Sumenep tak Lagi Layani Penerbangan Komersil

Avatar
WAWANCARA. Kepala Otorisasi Bandara Trunojoyo Sumenep, Arqodri Arman, saat diwawancara eksklusif oleh MaduraPost di ruang kerjanya. (M. Hendra. E/ MaduraPost)

SUMENEP, MaduraPost – Bandara Trunojoyo Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, kembali tidak melayani penerbangan komersial. Hal itu disebabkan karena kurangnya minat masyarakat untuk menggunakan jasa transportasi udara tersebut. Jumat, 5 Agustus 2022.

Padahal, Presiden Joko Widodo baru meresmikan Bandara Trunojoyo Sumenep ini pada 20 April 2022 lalu. Nyatanya, hingga kini maskapai mengaku belum mendapatkan profit oriented yang siginifikan.

Kepala Otorisasi Bandara Trunojoyo Sumenep, Arqodri Arman menjelaskan, pesawat yang awal mula melayani penerbangan Sumenep-Surabaya dan sebaliknya adalah Wings Air.

Namun sebagaimana diketahui, penerbangan itu pun tidak berlangsung lama. Qodri mengatakan, Wings Air tercatat sejak bulan Juni 2022 suda tidak melayani penerbangan.

Lagi-lagi alasan kurangnya peminat di jalur udara tersebut menjadi faktor utama. Semester pesawat dengan nama Citilink per tanggal 14 Agustus 2022 juga sudah tidak melayani rute Sumenep-Surabaya dan sebaliknya.

“Untuk terakhir kalinya Citilink sudah tidak terbang lagi dari tanggal 7 Agustus 2022 besok,” kata Qodri saat diwawancara MaduraPost ekslusif di kantornya, Jumat (5/8).

Citilink sendiri merupakan maskapai penerbangan yang berada di bawah naungan Garuda Indonesia Group dan melayani penerbangan dengan sistem dari kota ke kota.

BACA JUGA :  Petani Segera Dapatkan Pupuk Bersubsidi, Bupati Sumenep Tandatangani SK Penyaluran

Pada waktu yang bersamaan, Presdien Joko Widodo menaiki pesawat Citilink untuk meresmikan Bandara Trunojoyo Sumenep beberapa bulan lalu.

“Sudah tidak ada layan penerbangan komersil lagi, maskapai sudah undur diri,” kata Qodri menegaskan.

Meski begitu, hingga kini pihak maskapai belum menarik izin rute atau izin slot sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.

Rute tersebut juga memang memiliki masa periodik atau waktu, jika tidak diperpanjang maka izinnya juga akan berakhir.

“Mereka pamit dan berharap ke depan potensi penumpang bisa tumbuh. Sehingga, peluang mereka untuk penerbangan bisa terlayani kembali,” kata Qodri mengungkapkan.

Menurut Qodri, akses transportasi darat sejauh ini masih dominan diminati warga Madura khususnya masyarakat Kabupaten Sumenep dibandingkan transportasi udara.

“Sejauh ini kami menganalisisnya untuk rute Sumenep-Surabaya dan Surabaya-Sumenep dari transportasi daratnya ini cukup berat jika mau bersaing. Jadi kita yang dijalur penerbangan untuk berkompetisi masih kalah ke yang darat,” terang dia.

BACA JUGA :  Bea Cukai Madura Sosialiasi Permendagri Terkait DBHCT di Desa Dempo Barat Pamekasan

Di samping perbedaan harga tiket yang cukup signifikan, tranportasi darat menjadi faktor dominan yang membuat masyarakat belum meminati transportasi udara.

Pihaknya hanya bisa berharap agar beberapa maskapai bisa lagi menerima penerbangan rute Sumenep-Surabaya tersebut.

Seperti diketahui, Bandara Trunojoyo Sumenep bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat sudah menggaungkan adanya rute lain sepet ke Jakarta, Denpasar dan Provinsi Kalimantan.

Namun hingga kini hasilnya masih nihil. Parahnya lagi, rencana tersebut hanya tinggal wacana. Sementara maskapai sudah pamit pulang, seperti keberadaan Wings Air dan Citilink yang menilai kurangnya minat masyarakat pada penggunaan transportasi udara.

“Karena kami melihat penerbangan Surabaya-Banjarmasin itu cukup bagus dan di dominasi oleh warga Madura. Makanya wacana itu kami bersama Pak Bupati gaungkan waktu itu,” ujarnya.

“Tapi hingga saat ini belum ada respon dari maskapai, mungkin masih melihat dan mengkaji lagi target pasar jika rencana rute baru tersebut bisa dilanjutkan. Sejauh ini kami masih memberikan data dan peluang dari masyarakat Madura yang ada di beberapa daerah seperti yang saya sebutkan tadi,” kata Qodri lebih lanjut.

BACA JUGA :  Gara-gara Virus Corona, Petronas Tunda Penyerahan CSR Mobil Damkar

Disamping itu, untuk mendorong masyarakat bisa menciptakan pasar di transportasi udara, menurutnya harus cukup usaha yang keras.

Apalagi ditambah dengan dampak pandemi Covid-19 dua tahun terakhir yang menghantam ekonomi masyarakat.

“Yang paling penting sebenarnya bukan hanya soal penerbangannya, tapi ada tidak penumpangnya,” sentil Qodri.

Jika diprosentase dari segi aturan tranportasi darat memang lebih mudah dan terjangkau. Apalagi Surat Edaran (SE) tranportasi udara terbaru yang mewajibkannya para penumpang perjalanan dalam negeri maupun luar negeri harus menyertakan vaksin dosis ketiga atau Booster.

“Kalau tidak ada vaksin ketiga itu harus ada biaya tambahan yakni antigen. Nah, masyarakat ini kan melihatnya pasti akan mengeluarkan uang lagi. Sekarang mungkin di transportasi alternatif tidak terlalu ketat regulasinya ya. Tapi kalau pesawat ini ya seperti yang saya jelaskan tadi,” pungkasnya.

Lalu bagaimana nasib Bandara Trunojoyo Sumenep ke depan?

Qodri berharap, perhatian semua pihak khususnya Pemkab Sumenep lebih bisa mengutamakan adanya tranportasi udara demi berkembangnya Kabupaten ujung timur Pulau Madura tersebut.