Pasien tersebut meninggal dunia pada Selasa (13/10/2026), sehari setelah menjalani perawatan di RS BHC Sumenep karena keluhan penyakit lambung.
Sepekan setelah kejadian, keluarga mengaku belum memperoleh jawaban menyeluruh mengenai hasil investigasi internal rumah sakit.
Perwakilan keluarga berinisial Y sebelumnya menyebut pihak BHC telah mendatangi rumah duka di Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, pada Jumat (16/10/2026), untuk menyampaikan belasungkawa dan permintaan maaf.
Namun, keluarga masih menunggu hasil pemeriksaan internal yang disebut belum selesai.
Upaya awak media meminta klarifikasi kepada manajemen BHC pada Senin (19/10/2026) juga belum membuahkan hasil. Petugas keamanan rumah sakit, Moh. Fauroq, menyampaikan bahwa jajaran manajemen sedang berada di Surabaya setelah dipanggil MH Said Abdullah.
Belum ada penjelasan resmi mengenai agenda pemanggilan tersebut ataupun kaitannya dengan kasus kematian Firman.
Direktur BHC Sumenep, dr. Tedjo Wahyu Putranto, serta pihak hubungan masyarakat dan pemasaran rumah sakit juga belum memberikan tanggapan atas upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan.
Sementara itu, Kepala Dinkes P2KB Sumenep, dr. Elliya Fardasah, sebelumnya menyatakan perlu memastikan informasi kepada jajarannya sebelum memberikan komentar lebih jauh. Ketika kembali dihubungi, ia belum memberikan respons.
Kondisi tersebut membuat penjelasan mengenai tindak lanjut pemerintah daerah dan hasil investigasi rumah sakit masih dinantikan.