“Orang datang ke sana bukan untuk mati, tapi untuk berobat. Kan begitu logika kesehatannya,” ujarnya.

Belum adanya hasil investigasi yang disampaikan kepada publik menjadi persoalan lain dalam kasus ini. Zamrud meragukan objektivitas pemeriksaan apabila proses tersebut hanya dilakukan oleh pihak internal rumah sakit tanpa keterbukaan mengenai metode dan temuannya.

“Kalau investigasi internal itu, kecenderungannya tidak mungkin objektif. Pasti membenarkan tindakan rumah sakit itu sendiri, karena sifatnya internal,” ucapnya.

Pernyataan itu merupakan pandangan Zamrud. Belum ada hasil pemeriksaan yang dapat membuktikan bahwa investigasi BHC Sumenep tidak objektif ataupun bahwa kesalahan medis benar-benar terjadi dalam penanganan Firman.

Meski demikian, ia meminta rumah sakit memberikan kejelasan mengenai perkembangan pemeriksaan. Menurutnya, keluarga tidak semestinya terus menunggu tanpa memperoleh informasi yang memadai tentang proses yang sedang berjalan.

Zamrud juga mengingatkan agar penyelesaian persoalan tidak disertai tekanan terhadap keluarga korban. Ia meminta pertanggungjawaban diberikan apabila nantinya ditemukan kekeliruan dalam pelayanan.

“Kalau merasa benar, silakan bertanggung jawab atas kematian itu,” tegasnya.

Di tengah belum jelasnya hasil investigasi, Zamrud turut mempersoalkan komunikasi manajemen BHC Sumenep dengan wartawan.

Ia menilai kesulitan memperoleh keterangan dari rumah sakit berpotensi memperlebar jarak antara institusi pelayanan kesehatan tersebut dan masyarakat.