Kini, penyidikan KPK mengarah pada Hasto Kristiyanto, yang diduga berperan penting dalam mengatur aliran dana suap tersebut.
Hasto telah beberapa kali dipanggil KPK untuk memberikan keterangan sejak awal 2020. Ia juga pernah bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta terkait kasus ini. Terakhir, ia diperiksa penyidik KPK pada Juni 2024.
Setelah penyelidikan bertahun-tahun, akhirnya Hasto ditetapkan sebagai tersangka, mengindikasikan dugaan kuat keterlibatannya dalam skandal ini.
Sebagai politikus, Hasto memiliki rekam jejak akademis yang mentereng. Ia merupakan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI).
Karier politiknya di PDIP berkembang pesat, hingga menduduki posisi strategis sebagai Sekjen. Dalam peran ini, Hasto dikenal sebagai tokoh yang loyal kepada Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, sekaligus penggerak mesin politik partai.
Namun, tudingan yang sering dilontarkan Hasto terhadap lawan politiknya, termasuk klaim kriminalisasi Anies Baswedan oleh Jokowi, menuai kritik.
Banyak pihak menilai tudingan tersebut hanya strategi politik untuk mengalihkan perhatian dari masalah internal PDIP, terutama setelah kasus Harun Masiku kembali mencuat.
Harun Masiku, buronan KPK sejak 2020, menjadi pusat perhatian dalam kasus ini. Ia diduga menawarkan uang kepada Wahyu Setiawan agar dilantik sebagai anggota DPR menggantikan Nazarudin Kiemas.
Proses hukum terhadap Wahyu dan pihak lain yang terlibat, termasuk Saeful Bahri dan Agustiani Tio Fridelina, telah selesai. Namun, keberadaan Harun Masiku hingga kini masih menjadi misteri, sementara kasus ini terus menjadi sorotan publik.