PAMEKASAN, MaduraPost - Setiap tahunnya, tepat pada tanggal 17 Ramadhan, langit di Pondok Pesantren Banyuanyar bersinar lebih cerah, mengundang doa dan kenangan bagi KH Abdul Hamid bin Itsbat, salah satu ulama terkemuka Madura.

Haul akbar tersebut bukan hanya tentang mengenang, tetapi juga merayakan warisan spiritual dan kebajikan yang beliau tinggalkan. Hal tersebut dilakukan sebagai tanda sebuah warisan spiritual dan kebesaran seorang ulama.

Haul akbar tersebut menjadi momen suci untuk mengenang dan mendoakan KH Abdul Hamid. Ribuan santri dan pengunjung hadir untuk menyampaikan doa dan mempererat ikatan spiritual dengan ulama besar tersebut.

KH Abdul Hamid, putra pendiri pondok pesantren, Kiai Itsbat, tidak hanya menjadi lambang ketokohan di Madura, tetapi juga menciptakan jejak berharga di tanah suci Mekah. Wafat di usia yang relatif muda, namun kesetiaan dan ketakwaannya kepada Allah menjadi legenda tersendiri.

Dari ketujuh putra yang beliau miliki, masing-masing membawa tongkat estafet spiritual. Pesantren-pesantren yang mereka asuh tidak hanya menjadi tempat pembelajaran agama, tetapi juga pusat kearifan lokal yang menginspirasi ribuan santri dari berbagai daerah.