“Ini bukan keputusan sepihak dari owner atau pihak lain, tetapi memang ketentuannya seperti itu. Setiap hari menu juga berbeda, dengan pembelanjaan yang berbeda pula. Jadi, menu yang disajikan menyesuaikan dengan pembelanjaan, karena patokan harga sudah jelas,” lanjutnya.

Menurut Eko, masih banyak masyarakat yang keliru memahami perhitungan anggaran program MBG. Ia mencontohkan, jika anggaran Rp10 ribu per anak dengan kuota 3.000 siswa, maka total anggaran per hari mencapai Rp30 juta. Namun, dana tersebut tidak seluruhnya masuk ke dapur.

“Logikanya seperti itu, tapi jangan dikira Rp30 juta itu masuk semua ke dapur. Tidak seperti itu. Kami harus menalangi terlebih dahulu, dan talangan yang diperbolehkan hanya Rp15 juta per hari,” paparnya.

Ia menilai kesalahpahaman inilah yang kemudian memicu munculnya persepsi negatif terkait menu MBG di lapangan.

Ke depan, Eko berharap seluruh pihak, khususnya Pemerintah Kabupaten Sampang, dapat lebih cermat dalam menyikapi informasi yang beredar di masyarakat.