Sayangnya, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah kabupaten terkait rencana perbaikan ruas jalan Batulenger–Karangpenang. Warga hanya bisa berharap suara mereka tak kembali tenggelam dalam genangan air dan lumpur jalanan.

Jalan Rusak, Demokrasi yang Retak

Di balik cerita jalan rusak ini, tersimpan ironi demokrasi: di tempat suara rakyat seharusnya didengar, justru mereka merasa dilupakan. Infrastruktur dasar, seperti jalan, seharusnya menjadi prioritas, bukan sekadar alat kampanye.

Saat roda kendaraan terseok-seok di jalanan rusak, sesungguhnya roda kepercayaan publik juga ikut oleng. Karena bagi masyarakat desa seperti Abdurrohman, jalan yang baik bukan soal kenyamanan semata, tapi soal keadilan yang nyata.