SAMPANG, MaduraPost Di bawah guyuran hujan sore itu, Abdurrohman berdiri di pinggir jalan berlumpur. Sepasang sandalnya penuh lumpur, sementara sepeda motornya nyaris tergelincir ketika melewati genangan air yang menutupi lubang jalan. Pemuda asal Desa Bira Tengah, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang ini hanya bisa menggelengkan kepala.

“Sudah puluhan tahun jalan ini rusak. Kalau hujan, air langsung masuk ke tengah jalan karena tidak ada selokan. Lama-lama jalan makin hancur,” keluhnya, Minggu (1/6), saat berbincang dengan MaduraPost.

Jalan yang dimaksud Abdurrohman adalah ruas jalan penghubung Kecamatan Sokobanah–Karangpenang. Ruas ini sebetulnya bukan sekadar jalan biasa. Ia adalah nadi penghubung antar desa yang dilalui setiap hari oleh ratusan warga, termasuk pelajar, petani, pedagang, dan pengangkut hasil bumi. Namun, alih-alih menjadi penunjang aktivitas ekonomi dan sosial, jalan ini justru menjadi momok bagi pengguna jalan.

Kubangan Berlumpur di Tengah Aspirasi yang Tenggelam

Pantauan di lokasi memperlihatkan kondisi yang jauh dari layak. Jalanan bergelombang, berlubang, dan sebagian besar tergenang air. Aspal yang pernah menempel tampak mengelupas, menyisakan batu kerikil dan tanah merah yang licin saat hujan turun. Kendaraan roda dua dan roda empat harus merayap perlahan, mencoba menghindari jebakan lubang yang bisa berujung celaka.

“Kalau sudah hujan begini, kami lebih takut lewat sini. Pernah anak saya jatuh karena motor oleng. Tapi mau bagaimana lagi, ini satu-satunya jalur ke sekolahnya,” tutur Sita Halimah, ibu rumah tangga yang saban hari mengantar anaknya sekolah melewati jalan tersebut.

Bagi warga Sokobanah, kerusakan jalan bukan hal baru. Tapi yang membuat mereka geram, adalah kenyataan bahwa kerusakan ini berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan yang berarti. Warga merasa diabaikan. Janji-janji perbaikan jalan hanya muncul saat musim kampanye, lalu menghilang seiring hilangnya baliho para calon pemimpin.

Drainase Tak Ada, Pemerataan Tak Terasa

Penyebab utama kerusakan, menurut warga, bukan semata faktor cuaca. Minimnya sistem drainase memperparah situasi. Air hujan tak memiliki tempat mengalir, sehingga menggenangi permukaan jalan, merembes ke dasar, dan mempercepat pelapukan aspal. Tak ada upaya nyata untuk membuat saluran air, meski warga sudah berkali-kali menyampaikan aspirasi dalam berbagai forum desa.