Dari cerita I Wayan, Pangeran Cakraningrat IV bersama Raden Ayu tinggal di Madura selama 25 tahun dan nama berganti menjadi Raden Ayu Siti Khotijah. Setelah 25 tahun di Madura Raden Ayu kembali pulang ke Bali untuk mengobati rasa rindunya.

"Raden Ayu kembali Pulang ke Bali bersama 40 pengawalnya dari Madura," tanbahnya.

Akan tetapi menurut I Wayan, setelah sampai di Bali Raden Ayu sering ketahuan shalat. Hal tersebut diketahui beberapa kali oleh pengawal Raja Pamecutan.

"Kalau agama kami kan kalau shalat menghadap ke timur, tapi raden ayu shalat menghadap ke barat, disitu pengawal raja langsung melaporkannya," cerita Wayan.

Setelah mendengar cerita tersebut, Raja Pamecutan memerintahkan anak buahnya untuk membunuh putrinya tersebut kata wayan melanjutkan ceritanya kepada media.

"Namun raden ayu bilang, kalau saya mau dibunuh dengan pedang itu tidak akan mati. Kalau mau bunuh saya pakek ini sembari menunjukkan tusuk rambut tang diberi oleh Pangeran Cakraningrat yang dibawa dari Madura," tuturnya.

Pesan terakhir menurut I Wayan dari Raden Ayu adalah, dia meminta apabila nanti mati dan jasasnya harum maka raden Ayu meminta untuk dikubur secara islam.

"Benar saja setelah dia shalat magrib lalu ditusuk pakek tusuk konde di dada kirinya, jasad beliau harum dan semua kaget," imbuh Wayan.

Kisah mistis di makam Raden Ayu Siti Khotijah.