Menurutnya, literasi keuangan tidak semata persoalan teknis perbankan, melainkan bagian dari kesadaran iman. Mengelola keuangan secara bijak dipandang sebagai wujud nyata nilai amanah dan tanggung jawab.
“Literasi keuangan itu bukan hanya sekadar pintar hitung, tapi sadar nilai,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti kecenderungan konsumsi masyarakat yang meningkat menjelang Ramadan. Menurutnya, bulan puasa kerap berubah menjadi momentum belanja berlebihan, padahal esensi puasa adalah pengendalian diri.
“Puasa itu menahan, bukan menambah. Kalau Nisfu Sya’ban dijadikan titik sadar, Ramadan seharusnya lebih sederhana, bukan justru boros,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menilai spiritualitas tanpa pengendalian diri dalam aspek ekonomi berpotensi menimbulkan kelelahan batin. Malam Nisfu Sya’ban, kata dia, seharusnya menjadi titik perubahan sikap hidup, bukan sekadar seremoni tahunan.