Jurnalisme adalah proses belajar yang tidak pernah selesai. Baik wartawan senior maupun pendatang baru, jurnalis tetap dituntut untuk terus mengasah kepekaan, memperdalam pengetahuan, dan menjaga integritas.
Terlebih di daerah, di mana relasi sosial begitu dekat, godaan untuk berkompromi dengan kepentingan sering kali lebih besar.
Harapan saya, dunia jurnalistik di Sumenep dapat tumbuh secara sehat dan beradab. Dibutuhkan kesadaran kolektif, pembinaan yang berkelanjutan, serta keberanian individu untuk menempatkan etika di atas kepentingan sesaat.
Sebab pada akhirnya, profesi wartawan bukan tentang siapa yang paling dikenal atau paling berpengaruh, melainkan tentang siapa yang paling setia pada kebenaran dan kepentingan publik.***