“Kami selalu berusaha membuat pasien merasa tidak sendirian. Mendengarkan keluhan mereka dengan sungguh-sungguh juga bagian penting dari terapi,” ungkapnya.

Tak hanya pasien, para pendamping juga merasakan manfaat dari suasana positif yang dibangun. Rina, warga Kecamatan Guluk-Guluk, yang rutin menemani anaknya terapi pascastroke, menceritakan perubahan besar yang ia saksikan.

“Tadinya tangan anak saya tidak bisa digerakkan sama sekali. Tapi sekarang sudah mulai bisa terangkat. Saya percaya ini bukan cuma karena alat, tapi karena dedikasi para nakesnya,” ucapnya haru.

Sementara itu, Direktur RSUDMA Sumenep, dr. Erliyati, menekankan bahwa peningkatan mutu layanan, termasuk fisioterapi, adalah bagian dari komitmen jangka panjang manajemen rumah sakit.

“Kami ingin menciptakan pelayanan rehabilitasi yang bukan hanya efektif, tetapi juga membuat pasien merasa tenang dan aman. Memberi pelayanan dengan hati adalah prinsip utama kami,” jelasnya.