Ia menuturkan, pilar-pilar tersebut tidak lahir begitu saja, melainkan melalui proses panjang sejak perumusan dasar negara hingga reformasi sistem kenegaraan pasca amandemen UUD 1945.

“Ini bukan sekadar teori di atas kertas. Empat Pilar adalah hasil dari sejarah dan perjuangan panjang yang harus kita jaga dan lestarikan bersama,” katanya.

Khoirus juga menekankan perlunya pendekatan literasi kebangsaan yang relevan dengan zaman, termasuk melalui pendidikan digital agar generasi muda mampu memilah informasi serta berkontribusi dalam menjaga kesatuan bangsa di ranah digital.

Di sisi lain, Roni Ardiyanto menambahkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar seharusnya tercermin dalam tindakan sehari-hari.

“Bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menghargai perbedaan, tidak memandang teman dari suku atau agama, dan tetap menjunjung rasa toleransi,” terang Roni kepada para peserta.