Irul, yang juga mulai merasakan letih, menambahkan bahwa tarawih adalah latihan kesabaran.

“Kalau di awal Ramadan kita bisa bertahan, insyaAllah nanti tubuh terbiasa. Yang penting niatnya harus kuat,” katanya.

Setelah 23 rakaat tarawih dan witir selesai, jamaah bergegas keluar masjid. Irul dan Wardi pun berjalan santai menuju rumah sambil membahas isi ceramah tadi malam, yang menyinggung tentang Ramadan" class="inline-tag-link">keutamaan Ramadan dan pentingnya menjaga lisan.

“Saya tertarik bagian tentang menjaga perkataan. Ramadan bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga mengendalikan diri,” ujar Wardi.

Irul mengangguk setuju. Baginya, Ramadan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, bukan sekadar menambah pahala ibadah.