Beberapa saat kemudian, lanjut Soengkono, DPP memberikan keterangan jika hasil survei pertama memang diakui jika dirinya memiliki elektabilitas yang lebih tinggi dari Fattah Jasin. Namun, berhubung ia tidak melanjutkan survei kedua akhirnya elektabilitasnya menurun.

"Tapi survei kedua dengan pasangan, Pak Soengkono tidak melakukan survei," ucapnya menirukan jawaban Sekjend PD.

Soengkono menambahkan, waktu Rakernas V di Jakarta, AHY menyampaikan bahwa untuk pelaksanaan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati nanti diutamakan kader yang maju. Sebagaimana tertuang dalam Juknis.

"Kenyataannya di Jawa Timur ini, kader-kader yang maju seperti Tuban, Situbondo itu dapat surat tugas semua. Kecuali Sumenep yang gak dapat, saya tanya ada apa ini DPP," terangnya, dengan nada heran.

Mendengar hal itu, lanjut dia, DPP menjawab dramatis. Dengan dalih bahwa DPP memanggilnya ke pusat bukan dalam rangka menghakimi melainkan bermusyawarah keberlangsungan Demokrat ke depan.