Bahkan, pihaknya sempat mendapatkan informasi jika investasi di Sumenep mencapai 1,4 triliun.
"Pertanyaannya investasi apa ? pemuda tidak ada yang bekerja. Tapi buktinya dimana ? Apa ini akal-akal ajakan di atas meja atau gimana ? Kita sengaja di miskinkan oleh sistem sendiri, karena orang Sumenep membeli jam kerja orang luar," paparnya.
Inilah potret Kabupaten Sumenep, sambung Khairul Anwar, meski dompet orang Sumenep bersumber dari tiga sektor yakni pertanian, perikanan, pariwisata. Sayangnya, pemuda yang ada tetap memilih berimigrasi ke kota besar.
"Tiga infrastruktur ini harus dibenahi. Berapa APBD Sumenep tahun 2020, kalau kita ingin menjadi pemimpin daerah harus jenius. Jangan hanya orang-orang rakus kekuasaan," tutupnya. (mp/mhe/din)