Sumenep Kota Miskin, Warga ‘Berprofesi’ Sebagai Pengemis

  • Bagikan
Ilustrasi.

SUMENEP, MaduraPost – Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menyebutkan, Kabupaten Sumenep, Madura sejak tiga tahun terakhir mengalami peningkatan jumlah penduduk miskin.

Data jatim.bps.go.id disebutkan, pada tahun 2019 penduduk miskin di Kabupaten ujung timur Pulau Madura ini berjumlah 211,98 ribu jiwa.

Pada tahun 2020 meningkat masyarakat miskin menjadi 220,23 ribu jiwa. Dilanjutkan tahun 2021 mencapai angka 224,73 warga miskin.

Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Sumenep, melalui Dinas Sosial (Dinsos) menyebutkan keberadaan Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) pada tahun 2020 tertinggi berasal dari Kecamatan Paragaan.

Berdasarkan data Dinsos Sumenep, terdapat 28 Gepeng yang sudah dilakukan rehabilitasi pada tahun 2020.

Rinciannya, Gepeng terbanyak berasal dari Kecamatan Pragaan berjumlah 11 orang. Sedangkan terbanyak kedua berasal dari Kecamatan Kota Sumenep, yakni 6 orang.

BACA JUGA :  Aktivis Senior Sikapi Problematika Pemerintahan di Pamekasan

Disusul Kecamatan Lenteng dan Kecamatan Nonggunong yang masing-masing terdapat 3 orang.

Ditambah Kecamatan Manding 2 orang, Kecamatan Ambunten, Kecamatan Gapura, dan Kecamatan Kalianget, masing-masing ada 1 orang.

Kepala Bidang (Kabid) Rehabilitasi Sosial Dinsos Sumenep, Fajarisman menyatakan akan, Gepeng merupakan tuna sosiald dan menjadi problematika di Kabupaten Sumenep hingga kini.

Menurutnya, persoalan Gepeng belum bisa terselesaikan. Dia mengatakan, bahwa banyaknya Gepeng di Sumenep memang menjadi masalah.

“Bukan hanya Sumenep, tapi juga secara nasional,” kata Fajarisman, Minggu (26/12).

Dia menjelaskan, jumlah Gepeng yang direhabilitasi berkurang dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2019, jumlah Gepeng berjumy 85 orang, sedangkan pada tahun 2020 hanya terdapat 28 orang.

BACA JUGA :  Melihat Potensi BUMDes di Sumenep Tahun 2020, Ini Hasilnya

Menurunnya angka Gepeng di Sumenep disebabkan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) selama pendemi Covid-19.

Pihaknya mengaku telah melakukan beberapa upaya bagaimana angka Gepeng terus menurun hingga tidak ada.

Salah satunya bekerjasama dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Sumenep dan lembaga kemasyarakatan yang peduli terhadap sosial.

Dinsos juga menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumenep dan Mutiara Fundation.

“MUI memberikan tauziah dan diajak ke jalan yang lebih baik agar tidak mengemis. Artinya, jika mereka kembali kepada jalan agama, saya yakin mereka tidak makan mengemis. Karena agama tidak mengajari umatnya meminta-minta,” kata Fajarisman mengungkapkan.

BACA JUGA :  Terhimpit Ekonomi, Warga Sumenep Banyak Edarkan Narkoba

Maraknya keberadaan Gepeng di Sumenep secara umum disebabkan faktor ekonomi dan ada yang memang menjadi pengemis sebagai profesi.

Selama tahun 2021, kata dia lebih lanjut, telah melalukan razia dalam sekala besar bersama Satpol PP sebanyak dua kali. Sayangnya, Dinsos Sumenep tak berani menyebut data Gepeng tahun 2021.

Fajarisman berdalih masih belum melakukan rekapitulasi data, karena masih menunggu akhir tahun. Padahal, saat ini sudah menjelang tutup tahun 2021.

“Untuk Gepeng dari bulan Januari hingga November tahun 2021 masih kami proses. Mohon tunggu sampai akhir,” kata Fajarisman menerangkan.

  • Bagikan