Pria Pengidap Gangguan Jiwa yang Tewas Ditembus Peluru, Ini Pengakuan Paman Herman

Avatar
WAWANCARA. H. Jalil, Paman Herman, saat diwawancara sejumlah media di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, usai mayat Herman dilakukan autopsi. (Istimewa)

SUMENEP, MaduraPost – Herman, pria yang akan genap berumur 24 tahun pada Juni 2022 itu tewas tertembak peluru. Minggu, 13 Maret 2022.

Pria kelahiran 1998 itu tersungkur lemas di Jalan Raya Adirasa, Desa Kolor, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Minggu sore sekitar pukul 16.30 WIB.

Di tengah genangan air ia menghembuskan nafas terakhirnya. Namun, hasil keterangan polisi, Herman tidak tewas di tempat, melainkan meninggal saat hendak dibawa ke rumah sakit.

Opini menggelinding Herman tewas di tempat diserbu peluru pistol polisi lahir dari video berdurasi 26 dan 45 detik tersebar diaplikasi perpesanan, utamanya grup WhatsApp. Tidak hanya dua video ini, namun video lain masih berantai di grup-grup WhatsApp.

Kronologi tertembaknya Herman tak lain saat ia menodongkan senjata tajam (Sajam) kepada seorang perempuan di depan sebuah toko bernama ‘Sakinah’.

Polisi menyebut, jika awalnya menerima informasi dari masyarakat atas tindakan Herman kepada sosok perempuan yang pada saat itu menaiki sebuah motor.

Polisi juga memberikan keterangan bahwa Herman sempat ingin merampas motor milik perempuan ini sebelum akhirnya menodongkan sajam jenis sabit.

BACA JUGA :  Sertijab Kapolres, AKBP Djoko Lestari Gantikan AKBP Teguh Wibowo sebagai Kapolres Pamekasan

Sesuai Kartu Tanda Penduduk yang dimiliki, Herman adalah warga asli Dusun Polah Timur, RT 029/ RW 104, Desa Gadu Timur, Kecamatan Ganding.

Kasubbag Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti mengungkapkan, saat Tim Reserse Mobil (Resmob) memberikan tembakan peringatan hingga tiga kali, sama sekali tak digubris oleh Herman.

Herman malah mendatangi petugas dengan mengacungkan celuritnya. Adegan ini terekam jelas dalam video yang tersebar dan viral di media sosial (Medsos).

Bunyi dentuman suara tembakan terdengar berapa kali pada video itu. Entah berapa peluru yang tembus di kulit pria yang baru bercerai dengan istrinya ini.

“Sebab itu polisi mengambil tindakan terukur,” kata Kasubbag Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti saat diwawancara sejumlah media di RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, Minggu (13/3) petang.

Terpisah, keluarga Herman, yaitu H. Jalil mengatakan bahwa ponakannya itu mengidap penyakit gangguan jiwa. Bukan seperti rumor yang terdengar di Medsos bahwa Herman adalah seorang begal.

Dia pun membantah hal yang menurutnya sudah menyakiti hati keluarga besarnya itu. Jalil mengaku, bahwa ponakannya ini terkontaminasi oleh minuman keras (Miras) yang sering di minumnya, hampir setiap hari.

BACA JUGA :  Milad HMI Ke – 75 Tahun, M. Tosan KAHMI Pamekasan: Do’a dan Harapan Dalam Tua HMI

Mengapa demikian ?

Hasil informasi yang dihimpun MaduraPost, Herman mengidap penyakit gangguan jiwa usai bercerai dengan istrinya.

Saat ini, dia tinggal sendiri. Ibunya tengah berada di perantauan Malaysia. Sejak berpisah dengan istrinya, hidup Herman tak karuan, ditambah efek Miras yang diteguknya setiap hari.

“Anak ini memang sering minum-minuman sebelumnya,” kata Jalil pada pewarta.

Sebelum Herman tewas di tangan polisi, Jalil sempat melarangnya untuk keluar rumah. Bahkan ia sempat merampas Sajam milik Herman. Sayangnya, Herman tak menghiraukan nasehat pamannya itu.

“Saat keluar dari rumah anak ini emang membawa sabit, sempat saya tegur dan saya larang. Tapi anak ini tetap keluar rumah,” kata warga asli Desa Ellak Laok, Kecamatan Lenteng itu.

Jalil mengatakan, kelakuan Herman setiap harinya memang sering hilang dari rumah, entah pergi kemana. Namun, Herman pasti kembali pulang.

Menurut cerita Jalil, dirinya sudah pernah berdiskusi dengan orang tua Herman untuk melakukan tindakan yang membuat Herman menerima efek jera, meski sedikit ekstrem dengan cara merantainya.

BACA JUGA :  Bantah Tak Ada Pemukulan, Panwascam Waru Disebut Rugikan Sepihak

Hal ini dilakukan, sebab jika kondisi Herman sudah tak terkendali, terkadang melakukan hal di luar nalar.

“Saya berencana merantai anak ini. Semua keluarga di rumah sudah sepakat sebelumnya,” bebernya.

Ibu Herman, kata Jalil, sering kali menegur Herman agar tak sering keluar rumah. Namun sayang, titah itu tak pernah didengarkannya.

Hingga akhirnya, takdir berkata lain, Herman harus tewas ditembus peluru tepat di dada kiring mendekati jantungnya.

Cerita Jalil tak sampai disitu, pria yang sehari-hari berprofesi sebagai kuli batu bata ini mengaku bahwa gangguan jiwa yang menimpa Herman cukup parah.

Bahkan, Herman pernah sesekali kepergok mecuri uang kotak amal masjid di desanya. Nominalnya luyaman besar, sekitar Rp 1 juta 3 ratus ribu rupiah.

“Jadi saat itu, Herman juga mencuri uang amal masjid,” akuinya.

Rumah Herman dengan pamannya masih terbilang cukup dekat. Hanya saja sudah terpisah Kecamatan antara Desa Gadu Timur, Kecamatan Ganding dan Desa Ellak Laok, Kecamatan Lenteng.