Polisi Akan Seret Terduga Pelaku Pemerkosaan, Humas Polres Sumenep : Panggilan Pertama Mangkir

Avatar
Ilustrasi

SUMENEP, MaduraPost – Terduga pelaku pencabulan bocah 11 tahun di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mangkir dari panggilan penyidik Kepolisian Resor (Polres) setempat. Rabu, 18 Mei 2022.

Meski terduga pelaku sudah mendapatkan surat panggilan penyidik Polres Sumenep untuk dilakukan pemeriksaan pada Selasa (17/5/2022) kemarin, nyatanya terduga pelaku inisial BD malah menghilang tanpa jejak.

BACA JUGA :  Public Relation PT Sejahtera Jaya Alim Mix Angkat Bicara Terkait Kasus Mantan Kades Bancelok

“Sudah kami lakukan pemanggilan, namun terduga pelaku tidak datang,” kata Kasubbag Humas Polres Sumenep AKP Widiarti, saat dihubungi MaduraPost, Rabu (18/5).

Widi mengungkapkan, jika panggilan pertama terduga pelaku sengaja mangkir dari panggilan polisi, pihaknya akan melakukan pemanggilan kedua alias surat peringatan kedua.

“Jika panggilan kedua juga masih mangkir, ada surat peringatan ketiga hingga penjemputan paksa,” jelasnya.

BACA JUGA :  Dugaan Pencemaran Nama Baik Oleh Pemilik Fb “Aini NuriSka FiRis Cynk” Terus Bergulir di Polres Sampang

Sayangnya, Widi enggan mengatakan kapan pemanggilan kedua akan dilaksanakan. Dia beralasan masih dalam perjalanan ke Kabupaten Sampang.

“Suaranya putus-putus, saya sedang perjalanan ke Sampang,” kata Widi, dari bilik telfon hingga menutup konfirmasi lewat sambungan selular dari pewarta.

Diberitakan sebelumnya, laporan kasus pemerkosaan tersebut dibuktikan dengan Surat Tanda Bukti Lapor (STBL) Nomor : TBL/B/93/IV/2022/SPKT/POLRES SUMENEP/POLDA JAWA TIMUR tertanggal 26 April 2022 lalu.

BACA JUGA :  Tersangka Kasus Pembunuhan Tokoh di Ketapang Masih Buram, Begini Penjelasan Polres Sampang

Namun, Widi mengungkapkan, jika kasus pemerkosaan yang menimpa Bunga (nama samaran korban) itu tetap akan di proses. Sesuai Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang kejahatan perkosaan terhadap anak di bawah umur.

“Batas minimal hukuman penjara 3 tahun dan maksimal 9 tahun penjara,” pungkasnya.