KML Pemantik Literasi Kaum Millenial di Bangkalan

Avatar
Foto : doc Madurapost

BANGKALAN, Madurapost.co.id – Komunitas Masyarakat Lumpur (KML) membuka minat literasi di Kabupaten Bangkalan. Jumat, (19/7/19).

Dunia menulis yang semkin terlupakan dengan semaraknya gadged dikalangan pemudi,  sehingga dunia menulis (sastra) dan membaca menjadi bagian membosankan, sedangkan game menjadi tempat pelarian utama.

Sedangkan menurut Diana Putri Arifiani mahasiswi  Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Bangkalan jurusan Bahasa dan Sastra Indanonesia mengucapkan terima kasih dan sangat mengapresiasi karena ada perkumpulan (KML) yang mau memberi wadah untuk ruang menulis.

BACA JUGA :  Gara Gara Virus Corona, MUI Keluarkan Fatwa Stop Sementara Sholat Jum’at

“sebagai kaum millenial, saya merasa miris terhadap kalangan muda. Karena jika terlalu tergantung terhadap HP, terus melupakan kegiatan yang bisa mengekspresiakan diri melalui tulisan”. Paparnya saat ditemui Festival Puisi Bangkalan (FPB).

M. Helmy Prasetya selaku pembina KML menerangkan bahwasannya dengan adanya literasi dan berangkat dari kegiatan kawan-kawan sastrawan mampu memberikan pengaruh walaupun sedikit terhadap literasi di Bangkalan.

“Kita berupaya terus membangun kreatifitas yang ada, menjadi suatu penampung karya teman-teman”. Ujarnya.

BACA JUGA :  Kapolres Sumenep Dimutasi

Dalam menyikapi keadaan menulis yang sulit digandrungi oleh kaum millenial di Bangkalan, Husniyatul Fitriyah dosen Bahasa dan Sastra Indanonesia STKIP PGRI Bangkalan selaku akademisi juga ikut mengomentari dengan adanya FPB bisa membantu pelajar dan mahasiswa untuk semakin minat dalam menulis.

“yang paling utama berperan dalam minat menulis adalah orang tua, guru atau dosen” tegasnya.

Hal serupa disampaikan oleh Tia Setiadi penyair nasional dan selaku kurator di basa basi menjelaskan
“Melibatkan pelajar dan guru adalah pemantik untuk hidupnya literasi”
Pungkasnya.

BACA JUGA :  Pemilihan Anggota BPD Desa Kalimook Ditunda, Antisipasi Penyebaran Virus Corona

Mashuri bidang peneliti sastra Balai Bahasa Jawa Timur terkait minat baca dan menulis di Bangkalan sangat minim. Selama ini kita melihat ada perimbangan di Madura yang tidak berimbang (Bangkalan, Sumenep). Namun dengan adanya kegiatan seperti ini hal itu menjadi seimbang.

“Sumenep lebih inten di wilayah pesantren, kalau Bangkalan lebih inten di sekolah dan kampus. Ibaratnya Sumenep mata kanan dan Bangkalan mata kiri “ (mp/sur/rul).