Opini  

Eksistensi Bahasa Arab di Era Digital

Avatar
Ulya Nur Imama, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab IAIN MADURA.

OPINI, MaduraPost – Peranan bahasa Arab dalam aktifitas kehidupan kita sangatlah urgent. Sampai kapanpun dan di era apapun bahasa Arab itu tidak akan pernah mati walaupun semua penuturnya di muka bumi sudah tiada. Maka, bahasa Arab selamanya akan terus ada dan akan tetap terpelihara karena bahasa Arab itu merupakan bahasa Al-Qur’an yang sudah mendapat jaminan pemeliharaan langsung dari Allah SWT sebagai pewahyu-Nya.

Bahasa Arab itu merupakan bahasa ilmu pengetahuan, bahasa para pembelajar, para sastrawan, bahasa jurnalistik dan bahasa para pengarang. Oleh karenanya tidak dapat diragukan lagi bahwa bahasa Arab selamanya akan tetap eksis, terutama di kalangan umat Islam itu sendiri. Apalagi, sejak ditetapkannya bahasa Arab sebagai salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 18 Desember 1973 hingga di era digital saat ini bahasa Arab itu tetap eksis.

Sebagaimana dikutip dari Ubaid Ridha dalam artikel jurnalnya menyebutkan, bahwa dewasa ini dari segi native speaker-nya, bahasa Arab menempati urutan kelima dari 20 bahasa di dunia. Urutannya adalah: (1) bahasa Cina dengan penutur asli lebih dari 1 milyar, (2) bahasa Inggris dengan penutur lebih dari 400 juta orang, (3) bahasa Spanyol dengan penutur sekitar 250 juta orang, (4) bahasa India sekitar 200 juta penutur, dan (5) bahasa Arab dengan penutur lebih dari 150 juta orang.

BACA JUGA :  Dua Tahun Kepemimpinan JIHAD, Infrastruktur Masih Terpusat di Perkotaan

Sedangkan dari segi penggunanya sebagai bahasa resmi, bahasa Arab menduduki posisi ketujuh dengan pengguna lebih dari 170 juta orang setelah bahasa Inggris yang menduduki posisi pertama dengan digunakan oleh lebih dari 1,5 milyar orang, kemudian disusul bahasa Cina dengan pengguna lebih dari 1 milyar, bahasa India lebih dari 700 juta, bahasa Spanyol 280 juta, bahasa Rusia 270 juta dan bahasa Prancis 220 juta.

Sedangkan dari segi jumlah negara yang menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa resmi, bahasa Arab menduduki peringkat ketiga setelah bahasa Inggris dan Spanyol. Bahasa Arab juga menempati posisi keempat dari segi prevalensi (persebaran) penggunanya setelah bahasa Cina, Inggris dan Spanyol. Bahkan, setelah tragedi 11 September 2001, bahasa Arab termasuk bahasa yang paling diminati untuk dipelajari di negara-negara Barat, khususnya Amerika.

BACA JUGA :  Haram Bagi Perempuan Untuk Merdeka

Tentunya itu semua mengindikasikan bahwa bahasa Arab di era digital ini tetap mampu eksis bahkan mengalami progres yang siginfikan di negara-negara non-Arab. Maka, atas dasar ini pulalah, pada tahun 2010 Maroko dan Arab Saudi sebagai anggota UNESCO (United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization) berinisiasi untuk mengusulkan ke organisasi di bawah naungan PPB tersebut, agar tanggal 18 Desember di mana bahasa Arab ditetapkan sebagai bahasa resmi PBB yang diperingati sebagai hari bahasa Arab sedunia (world Arabic language day).

Eksistensi bahasa Arab memang kalah pamor dengan bahasa Inggris, sehingga hal ini sebagaimana ditulis Ubaid Ridha dalam artikel jurnalnya disebabkan karena budaya konsumtif yang tinggi di kalangan negara Arab, ditambah dengan adanya ledakan informasi yang secara sadar atau tidak sadar kalau bahasa Inggris mulai menyebar masuk ke dalam sistem-sistem sosial di kalangan Arab sendiri.

BACA JUGA :  Covid-19 Dilihat Dari Sudut Pandang Logika Realita dan Keimanan

Misalnya, dalam bidang pendidikan sekolah-sekolah di Arab, terutama dalam mata pelajaran Eksakta, seperti: Kimia, Fisika, Matematika dan Biologi, buku-bukunya menggunakan bahasa Inggris. Begitu juga di dunia teknologi dimana kosa kata bahasa Asing tidak bisa dibendung.

Mirisnya, kosa kata itu diterima apa adanya, karena secara level sosial akan dianggap sebagai orang yang modern, sehingga yang terjadi adalah perubahan kalimat asing yang hanya dari sisi tulisan dari latin ke Arab saja, sedangkan bunyinya tetap sama. Seperti kata: Laptop, Mouse dan lain sebagainya.

Maka dari itu, penggiat bahasa Arab sudah saatnya melahirkan karya-karya akademik (hasil-hasil penelitian, teori-teori baru, buku, media dan sebagainya) yang dapat memberikan pencerahan bagi masyarakat banyak tentang urgensi dan signifikansinya bahasa Arab.

Oleh: Ulya Nur Imama, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab IAIN MADURA.