Menurut mereka, sejumlah negara bahkan memanfaatkan informasi sebagai instrumen politik untuk memperkuat kepentingan domestik maupun geopolitik.

Peserta pelatihan asal Sumenep, Iqbal Fuadi Hasbuna, menilai pelatihan tersebut sangat penting bagi jurnalis dalam menghadapi maraknya disinformasi.

“Melalui pelatihan ini saya jadi lebih memahami bagaimana informasi bisa dipelintir untuk kepentingan politik tertentu,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan anggota AJI Jember, Yuni, yang menilai banjir informasi manipulatif menuntut jurnalis memiliki kemampuan analisis yang kuat.

“Materi ini sangat relevan, bukan hanya untuk reporter, tapi juga pemimpin redaksi. Bahkan idealnya juga menjangkau masyarakat umum yang lebih rentan terpapar disinformasi,” katanya.***