Selain FIMI, peserta juga mendapatkan materi mengenai Domestic Information Manipulation and Interference (DIMI). Co-trainer pelatihan, Artika Rachmi Farmita, menjelaskan bahwa DIMI merupakan bentuk manipulasi informasi yang terjadi di dalam negeri untuk memengaruhi opini publik atau kepentingan politik domestik.

“Operasi DIMI biasanya memanfaatkan media sosial dengan membuat konten yang seolah-olah berasal dari pengguna biasa,” jelasnya.

Pelatihan pada hari pertama juga diisi dengan praktik OSINT untuk menelusuri serta memverifikasi informasi digital yang berpotensi manipulatif.

Pada hari kedua, sesi diskusi menghadirkan akademisi hubungan internasional Universitas Airlangga, Radityo Dharmaputra, serta peneliti CELIOS, Yeta Purnama. Keduanya menyoroti bahwa arus informasi global sering kali sarat kepentingan politik yang dapat memengaruhi persepsi publik internasional.