“Yang lebih menyakitkan, masyarakat Pamekasan harus patungan dan mengemis di pinggir jalan untuk memperbaiki jalan secara swadaya. Sementara ada uang pemerintah yang justru dipakai untuk mengirim dukungan ke acara dangdut,” kata Ahmadi Gafur, salah satu orator aksi, dalam orasinya, Senin (29/12).

Menurut Ahmadi, meski nilai dukungan tersebut mungkin dianggap kecil oleh pejabat, namun bagi masyarakat, anggaran tersebut sangat berarti jika dialokasikan untuk kepentingan publik, seperti perbaikan jalan rusak.

“Kalau uang itu dipakai beli semen saja, sudah sangat membantu warga yang selama ini memperbaiki jalan dengan uang sendiri,” ujarnya.

Di tengah polemik tersebut, publik juga menyoroti beredarnya sejumlah foto dan rekaman video yang memperlihatkan tiga pejabat Pemerintah Kabupaten Pamekasan berada di studio Indosiar saat berlangsungnya DA7.