Candra mengakui bahwa keputusannya membawa sepeda motor dengan lambang partai Golkar adalah bentuk dari pandangan politiknya yang tidak bisa sepenuhnya diatur.
Meskipun berbeda pilihan, dia menekankan bahwa dalam politik, ada perbedaan antara dukungan eksternal dan perasaan yang sesungguhnya.
"Secara tampak luar, mungkin terlihat mendukung, tapi soal hati dan perasaan tidak bisa dipaksakan," jelasnya.
Candra, yang merupakan warga Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, juga menyatakan siap menerima segala konsekuensi atas tindakannya tersebut. Dia menegaskan bahwa dirinya hanya seorang simpatisan, bukan pengurus partai.***