"Setelah menunggu hingga dua jam pasca administrasi selesai, kami tanya kepada petugas karena tak kunjung dirujuk, ternyata sopir ambulans dan perawat belum ada," ungkap Sukrisno.

Kejadian tersebut membuat keluarga pasien kurang menaruh harapan baik dalam menilai pelayanan RSU. Sebab membiarkan pasien terkatung-katung hanya tidak ada karyawan yang bertugas, semestinya tidak terjadi.

Sehingga pasien meski sudah gawat-darurat, lelet tidak menjadi kebiasaan dalam melayani rujukan pasien.

"Jika demikian, apakah kita harus menunggu pasien kritis hingga terjadi sebuah hal yang tidak diinginkan, baru pihak rumah sakit memberikan pelayanan baik. Kalau begini, mending para karyawannya untuk ditindak," ujarnya.