“Makanya kami khawatir jika ini tidak segera diajarkan kepada generasi bangsa,” ujar dia.
Menurutnya, dengan mengundang sekolah diharapkan nanti bisa muncul kegiatan ekstrakurikuler untuk melestarikan macapat di Sumenep, sehingga bisa mengetuk minat peserta didik pada kesenian macapat.
“Kalau tidak dikenalkan kepada anak didik, saya hawatir kesenian warisan leluhur ini akan punah dengan sendirinya,” harapnya.
Untuk diketahui, pagelaran macopat yang saat ini berlangsung di Gedung Ki Hajar Dewantara terdiri dari 13 grup. Mereka dijadwal akan membaca macapat sampai tanggal 25 November mendatang dengan ketentuan setiap grup akan membaca selama 12 jam, setelah itu akan diganti dengan grup lain sesuai yang dijadwalkan.