Sekitar pukul 15:00 WIB, suasana aksi yang awalnya tertib mulai memanas. Massa yang ingin masuk lebih dekat ke area kantor DPRD dihadang aparat kepolisian yang berjaga di sisi utara alun-alun. Dorong-mendorong tak terhindarkan.

Ketegangan meningkat ketika sejumlah peserta aksi melempar batu dan botol air mineral ke arah barisan polisi. Aparat pun membalas dengan tembakan gas air mata untuk memukul mundur massa. Beberapa orang terlihat tersungkur, sebagian lainnya berlari ke arah Jalan Rajawali untuk mencari perlindungan.

Aparat kepolisian dari Polres Sampang dibantu personel Brimob Pamekasan segera menambah barisan dan menutup akses menuju kantor DPRD. Hingga pukul 16:00 WIB, situasi berangsur kondusif setelah massa mundur ke titik kumpul semula di sekitar tugu Monumen Trunojoyo.

Krisis Legitimasi di Akar Pemerintahan Desa

Penundaan pelaksanaan Pilkades di Kabupaten Sampang sudah berlangsung sejak 2021 dengan alasan keterbatasan anggaran. Hingga kini, puluhan desa masih dipimpin oleh pejabat sementara yang ditunjuk pemerintah kabupaten.

Kondisi itu menimbulkan ketegangan sosial di tingkat bawah. Sejumlah warga menilai keberadaan Pj Kades kerap menimbulkan konflik kepentingan, terutama dalam pengelolaan dana desa.

“Pj itu bukan pilihan rakyat, jadi tidak punya beban moral ke warga. Akhirnya kebijakan banyak yang tidak berpihak,” kata salah seorang warga yang ikut dalam aksi.