SAMPANG, MaduraPost – Suara gelombang di pesisir utara Madura tak lagi sebising amarah para nelayan yang kehilangan mata pencahariannya. Mereka menuding dua korporasi raksasa, Petronas+Carigali" class="inline-tag-link">Petronas Carigali asal Malaysia dan mitranya PT Elnusa, sebagai biang keladi atas rusaknya puluhan rumpon di dasar laut yang selama ini menjadi tumpuan hidup. Kini, kemarahan itu akan dibawa ke darat dalam bentuk unjuk rasa besar-besaran di kantor SKK Migas Jatim, 14 Juli 2025 mendatang.
“Kami sudah cukup bersabar. Tapi kesabaran ada batasnya,” kata Faris Reza Malik, aktivis dari Kecamatan Banyuates yang dipercaya memimpin aksi.
Ia berbicara sambil menunjukkan foto-foto struktur rumpon yang hancur—rangkaian pipa, jaring, dan pelampung yang kini tinggal serpihan.
Rumpon atau rumah ikan rakitan yang ditanam nelayan tradisional di laut adalah sumber penghidupan utama bagi ratusan nelayan di sepanjang Pantura Madura. Namun semuanya berubah sejak Petronas dan Elnusa melakukan survei seismik untuk eksplorasi migas di kawasan itu.
Menurut para nelayan, getaran dari aktivitas eksplorasi itu menghancurkan lebih dari 30 rumpon milik warga di lima kecamatan: Pasean dan Batumarmar (Pamekasan), serta Sokobanah, Ketapang, dan Banyuates (Sampang).
“Bayangkan, satu rumpon bisa bernilai belasan juta rupiah. Itu dibangun dari tabungan kami selama berbulan-bulan,” kata Holik, nelayan asal Banyuates, yang mengaku dua rumpon miliknya kini tinggal kerangka.
Janji yang Tak Pernah Tiba
Pada awal 2024 lalu, kata Faris, pernah ada pertemuan antara perwakilan perusahaan, aparat keamanan, dan sejumlah tokoh nelayan. Dalam forum itu, Petronas melalui pihak ketiga menyampaikan kesediaan mengganti kerugian nelayan. Tapi hingga pertengahan 2025, tak satu pun bentuk kompensasi diterima. Bahkan, kata Faris, Nomor-nomor kontak mereka kini tak bisa dihubungi.
Media ini coba menelusuri dokumen-dokumen pertemuan yang disebut Faris. Dalam rapat koordinasi antara pihak perusahaan, SKK Migas, dan nelayan yang difasilitasi oleh pemerintah daerah, memang pernah ada sosialisasi terkait pertemuan tersebut dan viral ditulis di beberapa media online. Namun, tindak lanjutnya nihil.