Harapan pun digantung ke tahun berikutnya. Itupun kalau Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat. Kalau tidak? Para atlet mungkin masih akan memanjat di atas kerangka karat yang tak lagi kokoh.

Isma Ulfah, Kabid Pemuda dan Olahraga, tak menampik keterbatasan. Dari total anggaran Rp260 juta yang ada, hanya Rp30 juta dialokasikan untuk pemeliharaan—dan itu pun bukan untuk dinding panjat. “Paling hanya beli lampu dan sapu,” ujarnya jujur.

Jeritan yang Akhirnya Didengar

Keadaan ini akhirnya menyita perhatian publik setelah viral di media lokal. Jeritan Ardi dan kawan-kawan akhirnya terdengar oleh Komisi IV DPRD Sampang. Mahfud, ketuanya, langsung angkat bicara. Politisi Partai Keadilan Sejahtera itu menyebut bahwa dirinya akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mendorong penganggaran melalui PAK.

“Yang dibutuhkan hanya cat anti karat. Tidak besar. Tapi dampaknya luar biasa,” katanya, penuh penekanan.

Mahfud bahkan menyebut kondisi fasilitas olahraga di Sampang memprihatinkan secara umum. Bukan hanya panjat tebing, tapi juga GOR indoor bulu tangkis yang seharusnya bisa menghasilkan retribusi untuk daerah.

“Apa gunanya fasilitas kalau tidak aman dan tidak bisa digunakan dengan nyaman?” tambahnya.

Di Antara Karat dan Cita-Cita

Di balik semua itu, ada wajah-wajah muda yang tak peduli dengan tarik-ulur anggaran. Yang mereka tahu, mereka ingin menjadi atlet. Mereka ingin membanggakan Sampang. Dan untuk itu, mereka harus terus berlatih, meski di bawah risiko.