"Hasil data dari BPS JATIM, untuk IPM Kabupaten Sampang tahun 2020 ialah 62,70 % , tahun 2021 diangka 62,80 %, dan tahun 2022 mencapai 63, 39 %. Dalam kurun waktu 3 tahun terkahir hanya mengalami peningkatan 0,01 - 0,1 persen dan menjadi peringkat terbawah setiap tahunnya di bawah Kabupaten Bangkalan dan dua peringkat diatasnya yaitu Kabupaten Pamekasan dan Sumenep," jelas Aktivis Pantura asal Banyuates tersebut.
Wahyudi menerangkan, pembahasan tentang Indeks Pembangunan Manusia ada 3 komponen menjadi barometer yang mempengaruhi, yaitu tingkat pendidikan, kesehatan dan standar kehidupan yang layak. Ambil saja salah satu komponen penilaian IPM yaitu tingkat pendidikan yang mengindikasikan bahwa tingkat pendidikan Kabupaten Sampang masih paling rendah se Jawa Timur. Soal pendidikan bukan soal prestasi personal akan tetapi pemerataan taraf pendidikan atau kesadaran tentang pendidikan di kabupaten sampang masih minim.
"Kemudian tingkat kemiskinan Kabupaten Sampang dari tahun 2019 - 2021 berada di urutan teratas (tinggi). Pada tahun terakhir angka kemiskinan kabupaten sampang mencapai 237, 23 %, dan selalu menempati peringkat 1 termiskin se Jawa Timur dari tahun 2019," terangnya.
Terakhir ia menilai, dengan demikian Pemkab Sampang tidak punya prestasi apapun. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan perlu perhatian ekstra dari Pemkab Sampang terutama Bupati sebagai kepala daerah yang memiliki kewenangan dan pemangku kebijakan untuk melakukan trobosan-trobosan yang brilian untuk membawa Kabupaten Sampang HEBAT dan BERMARTABAT.
"Pemimpin di Sampang khususnya eksekutif ayo tinggalkan politik partisan hilangkan hiruk pikuk politik. Rangkul semua lapisan masyarakat, sehingga ada penurunan angka kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Sampang," pungkasnya.