"Banyak petani yang masih ikut kaprahnya saja saat budidaya tembakau. Kedua, adanya sewa lahan selama 3 bulan, ini sesuai pengakuan petani setelah saya tanya, mereka gunakan untuk tanam tembakau," kata Arif.

Sebab itu, pihaknya terus mengedukasi petani. Namun, untuk pengambilan keputusan, kata Arif, tetap ada pada petani itu sendiri.

"Yang jelas pemerintah tidak berhenti mensosialisasikan kondisi tembakau seperti ini. Kami tidak ingin menghilangkan budidaya tembakau, tapi kita berikan edukasi dalam membudidayakan tembakau harus pintar pertimbangkan situasi pasar. Sebagus-bagusnya merawat tembakau, tapi situasi iklim tidak mendukung malah juga rusak. Berimbas pada kualitas pertaniannya." jelasnya.

Arif mencontohkan, saat tembakau terkena hujan kualitasnya akan berubah. Sebab, musim kemarau basah bisa diprediksi menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).