“Setelah proyek selesai malah harus bersih-bersih lagi. Dulu ruang kelas ada kacanya, sekarang justru tidak ada. Sisa coran masih ada di dalam kelas, kacanya juga ditumpuk bersama bekas cor,” ungkap salah satu wali murid dengan nada kecewa, Kamis (15/1).
Tak hanya di ruang kelas, area sekolah juga dipenuhi material sisa bangunan. Kondisi tersebut membuat lingkungan sekolah menyerupai lokasi pembuangan limbah proyek, sehingga siswa dan guru terpaksa melakukan kerja bakti untuk membersihkan ruangan.
“Sekolah ini seperti dijadikan tempat buang sampah proyek. Murid sampai ikut kerja bakti, akibatnya kegiatan belajar mengajar tidak berjalan normal,” lanjutnya.
Situasi ini memunculkan sorotan terhadap profesionalisme pelaksana proyek. Dengan nilai anggaran ratusan juta rupiah, pelaksana dinilai seharusnya memastikan lokasi pekerjaan ditinggalkan dalam keadaan bersih, aman, dan layak digunakan oleh peserta didik.