“Jika nilai kebangsaan hanya dihafal tanpa dipahami, ia mudah goyah. Forum dialog seperti ini penting agar anak muda berani berpikir kritis, menjalani proses, dan mengambil peran langsung di tengah masyarakat,” katanya saat sesi tanya jawab, Selasa (23/12).

Khairul juga mengajak peserta untuk memperluas komunikasi lintas perbedaan, baik perbedaan pandangan politik maupun latar belakang sosial. Menurutnya, sikap eksklusif justru berpotensi mereduksi semangat persatuan.

“Wacana kebangsaan seharusnya lahir dari berbagai arah. Ketika kita membatasi diri karena perbedaan pilihan politik atau identitas, ruang tumbuh kita menjadi sempit. Empat Pilar mesti dijadikan rujukan etis, bukan sekadar jargon,” ujarnya menegaskan.

Sementara itu, pemateri lain, Ahmad Wasil, menyoroti fakta bahwa Empat Pilar belum sepenuhnya terimplementasi dalam kehidupan bermasyarakat.