Keunikan acara terlihat dari doa dan naskah upacara yang dibacakan dalam bahasa Madura, memperkuat kesan bahwa pelestarian budaya menjadi pendekatan utama dalam komunikasi publik Pemerintah Kabupaten Sumenep.
Dalam kesempatan itu, Wabup Imam juga mengajak berbagai elemen, termasuk perguruan tinggi, komunitas seni, serta kaum muda, untuk menjadi penggerak utama dalam transformasi budaya.
Menurutnya, warisan lokal tidak cukup hanya dilestarikan, tetapi juga perlu dimanfaatkan secara produktif.
“Generasi muda hari ini memiliki tanggung jawab ganda: menjaga nilai-nilai budaya dan mengolahnya menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan,” tuturnya.
Penyatuan momentum Hari Sumpah Pemuda ke-97 di tengah peringatan Hari Jadi Sumenep, kata Wabup Imam, memiliki makna simbolis yang mendalam.