"Sekarang tangkapan hasil laut saya minim. Ya mau gimana lagi wong angin kencang, terus ombak tinggi," tambahnya.
Hal serupa juga dialami oleh Bahauddin, seorang nelayan asal Pulau Sepudi. Ia lebih memilih untuk mengutamakan keselamatan daripada harus bertaruh nyawa menghadapi cuaca ekstrem.
"Saya sendiri di sini mending menunggu cuaca landai. Soalnya kan akhir-akhir ini emang gak bisa dipaksakan," ungkapnya melalui sambungan telepon.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumenep, Ari Widjajanto, mengonfirmasi bahwa cuaca buruk masih akan berlangsung hingga 16 Februari 2025.