"Kasus Al-Huda itu berawal pasca Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun 2019 lalu, Setelah saya menyatakan keluar dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), seolah olah kehidupan saya dibuat tidak tenang di Kabupaten ini," kata Neng Diyah pada sebagian isi tulisan terbukanya.
Ia juga dalam sebagian isi tulisannya tersebut, mengungkapkan adanya Sekretaris Anak Cabang PKB yang telah mencemarkan nama baiknya dan memprovokasi Rois Syuriah NU Larangan serta mengungkapkan adanya penculikan putrinya yang diduga dilak oleh salah seorang Bacakades 2022 bernama Mulyadi yang sejatinya merupakan Kader PKB sekaligus Aspri Lora Kholil Subki.
Neng Diyah juga menuliskan di sebagian tulisannya itu kalau salah seorang Kadis PUPR terindikasi terlibat dalam kasus yang mencatut nama Yayasan Al-Huda dalam pencarian dana gedung lembaga yang legalitasnya tidak jelas dan ia juga menuliskan kalau salah seorang Wakil Ketua DPRD sekaligus Ketua Ansor Pamekasan dari lingkaran PKB diduga telah jadi Eksekutor dalam memblacklist seluruh bantuan dari pusat atau dari Partai lain untuk Pesantren Al-Huda.
"Entah ada apa dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB DPC Pamekasan, red) ini, 20 tahun mengobok keluarga besar saya di Situbondo, lalu sampai hari ini masih usai dengan Sumber Nangka (Al-Huda), mohon Bapak Bupati (Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, red) segera mensterilkan pola politik tidak elok ini," kata Neng Diyah dalam sebagian tulisannya yang diposting dalam akun Facebooknya tersebut.