Aksi demo yang dilakukan Formasa ini, adalah bentuk kekecewaan para mahasiswa terhadap Bupati Sampang yang tidak menemui 10 orang mahasiswa yang hendak melakukan audensi 31 Januari 2022 kemarin.

"Katanya bapak Bupati mengaku siap 24 jam untuk diajak diskusi tentang pembangunan di Kabupaten Sampang, tetapi itu salah, karena saat kita hendak melakukan audensi malah tidak ditemui," kata Arifin salah satu mahasiswa yang tergabung dalam Formasa.

Sekedar diketahui, hasil kajian Forum Mahasiswa Sampang yang menjadi tuntutan pendemo saat ini diantaranya, berisi tentang, tingginya angka putus sekolah, Rombel, ASN rangkap jabatan, tidak ada lapangan kerja, kurangnya pendampingan ekonomi kreatif, gagal mendatangkan investor, infrastruktur amburadul, minimnya pendampingan terhadap UMKM, kemandirian desa hanya sebatas data tapi tidak sesuai fakta 3. transpransi data berbasis IT hanya omong belaka, ketimpangan pendapatan masyarakat, Bansos dikorupsi, keadilan proaktif tidak diberikan dan yang terakhir Pemkab gagal melaksanakan Pilkades.