"Saya pikir penting kiranya Paslon Bupati dan Wakil Bupati tidak asing dari produk budaya kita sendiri," ujarnya.
Disamping itu, penggunaan bahasa Madura dalam debat putaran kedua belum tentu akan kembali diterapkan dalam putaran ketiga. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan akan kembali dikonsep ulang.
"Belum kita putuskan, tetapi bisa jadi nanti ada lagi. Dengan menggunakan bahasa Madura tentu terkesan mencintai budaya tersendiri. Karena Paslon ini orang Madura, saya pikir KPU melayani masyarakat pemilih. Agar mereka memiliki modal yang cukup untuk memilih pilihannya sendiri," jelas Warist.
Pihaknya juga menilai, apabila debat kali ini menjadi ciri khas Pilbup Sumenep di tahun 2020. Mengingat, pada pesta demokrasi Pilbup tahun-tahun sebelumnya jarang menggunakan bahasa daerah.