Scroll untuk baca artikel
Opini

Pers di Tengah Kebisingan Bahasa Digital dan Algoritma

Avatar
×

Pers di Tengah Kebisingan Bahasa Digital dan Algoritma

Sebarkan artikel ini
PROFIL. Penulis Lepas, istilah atau nama pena dari jurnalis yang bertugas dan memiliki tanggung jawab menulis berita di Sumenep. (M.Hendra.E/MaduraPost)
PROFIL. Penulis Lepas, istilah atau nama pena dari jurnalis yang bertugas dan memiliki tanggung jawab menulis berita di Sumenep. (M.Hendra.E/MaduraPost)

OPINI, MaduraPost – Setiap kali peringatan itu hadir, maknanya sesungguhnya melampaui sekadar ritual tahunan bagi kalangan pers.

Ia menjadi ajakan untuk menengok kembali bagaimana bahasa bekerja dalam ruang publik dan bagaimana ia memengaruhi cara kita memahami dunia bersama.

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Di tengah realitas digital yang dipenuhi dering notifikasi, linimasa yang bergulir tanpa jeda, serta informasi yang dipilah oleh sistem algoritma, surat kabar kerap dipersepsikan sebagai medium yang telah usang.

Kecepatannya kalah dari ponsel pintar yang selalu berada di tangan. Namun justru dalam kondisi inilah, fungsi paling hakiki surat kabar menemukan pijakannya kembali, sebagai wadah diskursus publik tempat bahasa tidak hanya menyampaikan kabar, tetapi juga menyusun nalar, membangun keyakinan, dan membentuk kesadaran kolektif.

Sejak awal kemunculannya, surat kabar tidak pernah berdiri sebagai medium yang kosong makna. Realitas selalu disajikan melalui pilihan diksi, sudut pandang tertentu, susunan informasi, serta penekanan yang disengaja.

Setiap laporan adalah hasil penyaringan, setiap tajuk rencana mencerminkan posisi, dan setiap tulisan opini menawarkan cara pandang atas dunia. Di ruang inilah praktik retorika berlangsung secara nyata.

Retorika tidak bisa dipersempit hanya sebagai keterampilan berbicara di depan publik. Ia adalah kemampuan mengelola bahasa agar gagasan dapat dipahami, dipertimbangkan, dan diuji secara rasional dalam ruang bersama.

Dalam pengertian itu, surat kabar berfungsi sebagai panggung retorika sosial yang bekerja setiap hari, sering kali tanpa disadari oleh pembacanya.

Melalui teks-teks jurnalistik, terlihat bagaimana kepercayaan dibangun, lewat konsistensi redaksi, rekam jejak media, serta proses verifikasi yang ketat. Argumentasi dirangkai melalui data, rujukan, dan analisis yang menghubungkan peristiwa dengan konteks yang lebih luas.

Unsur emosional pun kerap hadir, baik melalui kisah manusia, pilihan kata yang menyentuh, maupun nada empati terhadap problem sosial.

Baca Juga :  Akhir Tahun 2020, DPRD Sumenep Tetapkan Dua Raperda Sekaligus

Praktik kebahasaan semacam ini menunjukkan bahwa upaya memengaruhi publik secara sehat bukanlah manipulasi, melainkan perpaduan antara kredibilitas, penalaran, dan sensitivitas kemanusiaan. Dalam bentuk idealnya, surat kabar mengajarkan bahwa persuasi selalu menuntut tanggung jawab moral.

Namun, lanskap media kini mengalami pergeseran besar. Algoritma platform digital menentukan informasi apa yang muncul di hadapan kita.

Popularitas, kecepatan, dan sensasi sering kali mengalahkan kedalaman dan ketelitian. Retorika tidak lenyap di ruang digital; ia justru berkembang pesat, meski kerap tampil dalam format singkat, terfragmentasi, dan sarat emosi.

Judul yang memancing reaksi, potongan video tanpa konteks, atau narasi viral yang mereduksi persoalan rumit menjadi hitam dan putih merupakan ekspresi retorika khas era algoritmik.

Masalahnya bukan pada keberadaan retorika itu sendiri, melainkan pada mutu dan arahnya. Ketika nalar dikalahkan oleh sensasi, dan dialog digantikan oleh gema pendapat yang seragam, ruang publik kehilangan salah satu pilar demokrasinya.

Dalam situasi semacam ini, surat kabar termasuk yang telah beradaptasi ke platform digital namun tetap berpegang pada etika jurnalistik berperan sebagai penopang intelektual. Ia mengingatkan bahwa fakta perlu diuji, isu perlu dilihat dari beragam sisi, dan bahasa publik tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab sosial.

Susunan berita yang sistematis, laporan mendalam, serta tajuk rencana yang argumentatif menunjukkan model retorika yang tidak tergesa-gesa. Di sana, upaya memengaruhi pembaca dilakukan melalui penjelasan yang matang, bukan sekadar pemantik emosi. Dengan demikian, pers menawarkan tandingan terhadap retorika instan yang mendominasi linimasa digital.

Membaca surat kabar pada dasarnya merupakan latihan berpikir. Pembaca diajak mengikuti alur penalaran, membedakan antara fakta dan opini, serta memahami bahwa satu peristiwa bisa dimaknai dari berbagai sudut pandang.

Baca Juga :  Pesan Kades Blaban Kepada Warga Penerima BLT Dana Desa

Tajuk rencana memperlihatkan bagaimana persoalan dianalisis secara bertahap sebelum sampai pada sikap tertentu. Kolom opini menunjukkan bagaimana gagasan dipertahankan dengan alasan dan bukti.

Sementara laporan investigatif mengajarkan bahwa kebenaran kerap tersembunyi di balik detail yang harus ditelusuri dengan ketekunan.

Semua itu adalah praktik berpikir kritis yang berlangsung di ruang publik. Di tengah budaya digital yang serba cepat dan ringkas, keterampilan semacam ini menjadi semakin krusial.

Generasi yang terbiasa dengan potongan informasi singkat membutuhkan pembiasaan membaca teks utuh agar mampu memahami persoalan secara menyeluruh.

Dalam konteks tersebut, surat kabar berfungsi layaknya ruang belajar terbuka bagi siapa saja. Ia melatih kesabaran intelektual, kesediaan untuk membaca dengan cermat, mempertimbangkan argumen, dan menunda penilaian sebelum menarik kesimpulan.

Demokrasi yang sehat memerlukan warga yang tidak hanya reaktif, tetapi juga reflektif.

Peran pers juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah pembentukan identitas kolektif. Di banyak negara, surat kabar menjadi medium penting dalam menyebarkan gagasan kebangsaan, menyatukan beragam suara lokal, dan membangun kesadaran tentang makna “kita”.

Melalui narasi mengenai perjuangan, keadilan, kemajuan, maupun krisis, pers ikut membentuk imajinasi sosial tentang nilai-nilai yang layak diperjuangkan bersama.

Istilah seperti “rakyat”, “kepentingan umum”, atau “masa depan bangsa” bukan sekadar kata-kata netral. Ia membawa muatan retoris yang menghubungkan peristiwa sehari-hari dengan cakrawala kebangsaan yang lebih luas.

Di era globalisasi digital, identitas kolektif menghadapi tantangan baru berupa arus informasi lintas batas, budaya populer global, serta polarisasi wacana.

Dalam kondisi ini, pers memiliki posisi strategis sebagai penjaga bahasa publik yang seimbang dan reflektif. Ia membantu memastikan bahwa diskursus kebangsaan tidak semata dibentuk oleh slogan atau luapan emosi, melainkan melalui dialog rasional yang memberi ruang bagi perbedaan.

Baca Juga :  Menyambut Hari Jadi ke 751 Kota Sumenep Dengan Wisata Tambak Udang dan Pencemaran Pantai

Dengan demikian, pers bukan hanya pencatat perjalanan sejarah, tetapi juga aktor yang turut menentukan arahnya melalui narasi yang disusun.

Bagi generasi digital, makna peringatan Hari Pers tidak berhenti pada penghargaan terhadap profesi jurnalistik. Pelajaran yang lebih mendasar adalah kesadaran bahwa bahasa memiliki daya membentuk realitas sosial. Cara suatu isu disajikan dapat memengaruhi persepsi, sikap, bahkan tindakan publik.

Karena itu, literasi media tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan teknologi. Ia juga mencakup kemampuan membaca retorika, memahami bagaimana argumen dirangkai, bagaimana emosi dimobilisasi, dan bagaimana kredibilitas dibangun. Surat kabar memberikan contoh konkret tentang bagaimana wacana publik seharusnya dikelola secara etis.

Ia menunjukkan bahwa berbicara di ruang bersama bukan tindakan sembarangan, melainkan praktik yang menuntut tanggung jawab terhadap kebenaran, dampak sosial, dan martabat manusia. Di tengah dunia yang dipenuhi kecepatan dan kebisingan, pelajaran ini terasa semakin mendesak.

Masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi komunikasi, tetapi oleh mutu bahasa yang kita gunakan untuk berdebat, berbeda pendapat, dan mencari titik temu. Karena itu, ketika Hari Pers diperingati, sesungguhnya yang diingatkan adalah pentingnya merawat kualitas retorika publik.

Surat kabar mengajarkan bahwa persuasi dapat berjalan beriringan dengan etika, bahwa perbedaan pandangan bisa dikelola melalui argumentasi, dan bahwa bahasa dapat menjadi jembatan, bukan semata alat serangan.

Di situlah relevansi pers bagi generasi digital, bukan sebagai nostalgia media cetak, melainkan sebagai sumber pelajaran tentang cara berpikir dan berbicara secara beradab di ruang publik yang kian kompleks.***

Penulis: Wartawan MaduraPost Biro Sumenep