SUMENEP, MaduraPost – Sejumlah pengembang perumahan di Madura menilai proses pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Pamekasan, Madura, Jawa Timur, berlangsung rumit dan memakan waktu lama.
Kondisi tersebut membuat banyak pengembang memilih bekerja sama dengan bank lain.
Pemilik Perumahan Bukit Damai Sumenep, Nanda Wirya Laksana mengungkapkan, bahwa dalam beberapa tahun terakhir pihaknya enggan kembali menjalin kerja sama pembiayaan KPR dengan BNI Cabang Pamekasan karena tidak adanya kepastian proses.
“Proses yang terlalu lama, rumit, dan berbelit-belit sangat mengganggu arus kas perusahaan. Jika dibiarkan, hal ini bisa merusak ekosistem bisnis properti itu sendiri,” kata Wirya, Sabtu (10/1).
Menurut Wirya, kondisi tersebut bukan terjadi tanpa sebab. Ia menilai terdapat oknum pegawai BNI yang memiliki peran strategis dalam pengambilan keputusan kredit, namun justru berdampak negatif terhadap hubungan bank dengan para pengembang perumahan di Madura.
“Penilaian ini bukan bersifat tendensius, melainkan berdasarkan pengalaman kami sendiri selama bekerja sama dengan BNI,” ujarnya.
Ia menambahkan, hubungan pengembang dengan BNI sebelumnya terjalin sangat baik, terutama saat BNI KCP Sumenep masih berstatus kantor cabang.
Wirya menyebut, kepemimpinan sejumlah pimpinan BNI terdahulu mampu membangun kerja sama yang profesional dan kondusif.
“Kami punya pengalaman sangat baik di masa kepemimpinan Pak Heru Darmawan, Pak Wulung Subakti, hingga awal kepemimpinan Pak Eri Prihartono. Saat itu, kerja sama berjalan lancar dan saling menguntungkan,” jelasnya.
Namun, menurut Wirya, kondisi berubah ketika terjadi perubahan birokrasi di tubuh BNI Cabang Pamekasan pada pertengahan masa kepemimpinan Eri Prihartono.
Sejak saat itu, kinerja BNI dalam menjalin hubungan dengan pengembang dinilai mengalami penurunan signifikan.
“Ibarat berada di medan perang, tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan dan kegagahan seorang panglima. Para pembantunya juga harus memiliki kemampuan yang sama. Dari situ bisa disimpulkan ke mana arah pernyataan saya,” tuturnya.
Wirya menegaskan, pihak BNI sejatinya lebih memahami persoalan internal yang dimaksud.
Ia berharap BNI dapat melakukan evaluasi internal agar kepercayaan pengembang terhadap perbankan milik negara tersebut dapat kembali pulih, khususnya dalam mendukung pertumbuhan sektor properti di Madura.***






